Adab Menasehati

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Hak Muslim atas Muslim lainnya ada enam:image
“jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya;
jika ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya;
jika ia meminta nasihat kepadamu, maka nasihatilah ia

jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah),
jika dia sakit maka kunjungilah, dan
jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).”(HR. Muslim).

Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.” (HR. Bukhari)

Al-Hasan Al-Bashri pernah mengatakan,

“Wahai sekalian manusia sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian padahal aku bukanlah orang yang paling shalih dan yang paling baik di antara kalian
Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah.
Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.”

Imam Syafi’i dalam syairnya mengatakan:
“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,Dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku.
Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.”

Merindukan Mereka berdua

my family at dufan1

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberiku kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku..  teringat ketika tahun 2006, seorang teteh memberiku hadiah ikut pelatihan MHMMD (mengelola hidup merencanakan masa depan) yang digagas oleh Marwah Daud Ibrahim. itu sebagai hadiah karena aku bersedia menerima amanah besar (katanya..). untuk ukuran kantong mahasiswa, bukan harga yang murah bisa mengikuti pelatihan itu. Memang ya rezeki Allah itu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Teringat masa itu ketika kami diminta membuat peta hidup yang isinya adalah pencapaian yang telah diraih selama hidup dan harapan yang ingin dicapai. dari usia 0 tahun hingga estimasi meninggal, arround 64 tahun. Buatku ini sebagai bagian dari perencanaan menuju Syurga.

Baca lebih lanjut

Cerita Pasca Menikah

Dalam benak.. oh gini ya rasanya menikah.. kalo kata orang, ga semuanya enak.. ada juga ga enaknya. Dan itu Benar.. jadi inget, kenapa ada buku pra nikah yang judulnya tertulis “bukan pernikahan cinderlela”. Yaaa memang bukan sperti cinderlela yg menikah dg lelaki tampan nan kaya raya.. yang setelah menikah akhirnya happy ending.. hidup bahagia selama2nya.. padahal.. setelah menikah, inilah babak baru kehidupan. Ada manisnya ada juga paitnya. Entah kenapa sebelum nikah dulu, banyak orang menggambarkan pernikahan itu indaaah banget.  Seolah ga ada yg pait2.

Padahal setelah menikah banyak yang berubah. Yang biasanya cuek sendiri kesana kemari, sekarang udah ga bisa lagi.. yang dulunya mutusin apa2 sendiri, sekarang udah ga boleh sperti itu.. yang dulu nya ga dibikin ribet sama perasaan, cuek sama penilaian orang lain, sekarang udah beda.. #ups

Kata teman.. seninya berumah tangga adalah mengalah.. dan ternyata itu susah.. yg lain juga pernah bilang kalo mengalah itu bukan berarti kalah.. tapi ketika dipraktikkan, pun tidak mudah..

Beradaptasi dengan orang baru.. totally baru.. itu ga mudah.. Gak semudah beradaptasi dengan kawan yang baru dikenal. Entahlah.. mungkin karena intersitas pertemuan yg berbeda.. karena pasangan mampu melihat dari A smpe Z nya kita.. dia yang selalu melihat kita dari mulai bangun hingga tidur kembali.. ataupun sebaliknya.. Banyak perbedaan yang terasa.. banyak kekurangan2 dan kelemahan2 yang mudah terlihat.. sekecil apapun itu.. bisa jadi bencana kalo ga banyak tenggang rasanya.. atau ga luas kesabarannya. Bisa2 akan ada perang tiap hari di rumah. Padahal rumah harus dijadikan seperti syurga.. “baitii jannatii”

Teringat taujih dari bu wiwi.. berumah tangga itu harus menurunkan ego agar terciptanya amal jama’i.. ya.. karena kita membangun islam, membangun peradaban kecil di rumah dengan amal jama’i. cuma 2 kata yang bisa dijadikan pegangan dalam pernikahan, dan bisa diamalkan saat kehidupan terasa sempit atau pun lapang, saat terasa sulit ataupun senang. “Sabar dan syukur” yaa.. cuma itu aja.. karena sunnatullahnya kehidupan itu sperti roda. Adakalanya kita diatas, adakalanya pula kita dibawah. Adakalahnya kita merasakan manis ataupun pait..

Bicara manis pait, jd Ingat sebuah cerita dr salafus shaleh.. Ga selamanya buah yang kita beli itu manis.. kadang kita dpt juga yang pait. Klo udah dapet yang pait, apakah kita akan menyalahi sang pedagang, sang petani, atau sang pencipta..? (selalunya sih nyalahin pedagangnya… :p) padahal pedagang dan petani pasti sudah berusaha yg terbaik semampu mereka.. tapi yang menumbuhkan buah2an itu adalah Allah.. ga mungkin kita menyalahkan Allah..

Kalo dianalogikan dengan pernikahan pun bisa.. (silahkan ditebak siapa yg jadi pedagang dan juga petaninya.. heheu..) intinya apapun yg kita terima syukur dan sabar adalah kuncinya.. karena semua pasti ada hikmahnya..

Barulah ku sadar kenapa menikah itu tanggung jawabnya  berat.. kenapa menikah itu mampu menyempurnakan din seorang muslim.. harus terus menerus meluruskan niat.. biar tetep bisa struggle menghadapi apapun. Cukup 1 fokusnya.. mengejar ridha Allah.. mendapatkan berkahnya, hingga muncul kebaikan2 disetiap aktifitas.. “Ziyaadatul khair fii kulli hal..”

Karena menikah bukan hanya untuk 1, 2, atau beberapa tahun aja.. menikah itu untuk selama2nya hingga bahtera ini selamat sampai di syurga.

Rumahmu adalah ladang pahala bagi mu..

#misi mengumpulkan banyak2 pahala biar bisa ketemu orang tua di syurga.. aamiin..

Dear my parent.. i miss both of you..

Refleksi Akhir Semester

IMG00218-20120916-1750Alhamdulillah sudah hampir 1,5 tahun aku berada di negeri ini sebagai penduduk asing. walaupun terkadang aku merasa sedang berada di negeri sendiri dan tidak merasa menjadi orang asing (foreigner) disini. Bagaimana tidak, setiap kali berjalan ke sudut-sudut kota, selalu saja ku temui orang-orang dari negeri ku.. entah dia sebagai TKI profesional, TKI non-profesional, student atau hanya sekedar menjadi turis. ada juga orang malaysia yang setiap kali berkenalan, mereka mengatakan bahwa “orang tua saya pun dari indonesia” atau “nenek buyut saya pun dari indonesia” dan akupun hanya tersenyum.. yaahh itulaah bukti sejarah yang menggambarkan kalau dahulu kita memang pernah bersatu sebagai wilayah “nusantara”.

Sudah lebih dari 1 minggu liburan semester ini terlewati. ini pertama kalinya merasakan liburan di kampus.. sepiiii karena banyak yang pulang kampung. Yang tetap tinggal biasanya student-student dari wilayah africa. meskipun begitu, lumayan menikmati liburan ini (karena wifi nya jadi kenceng hohohoo…) dan inilah saatnya untuk berbenah kembali.. mengevaluasi rencana-rencana hidup yang akhir-akhir ini kian pudar dari pandangan sambil kembali meluruskan niat.

Sekilas ku mencoba mengingat kembali, jalan hidup yang Allah takdirkan untukku, bagaimana Allah menuntun setiap keputusan-keputusan yang ku buat 1,5 thn yang lalu. bagaimana Allah memberikanku kemudahan atas segala keterbatasanku untuk mencapai keinginanku. Dan diriku pun mulai merasa malu juga bersyukur karena Allah amat sangat baik terhadapku. Teringat saat awal tahun 2012, saat aku menerima informasi bahwa kampus ini menerima ku sebagai student mereka tapi mereka mengharuskan ku tiba disini paling lambat 3 hari stelah aku mendapati informasi tersebut. alangkah bingungnya aku saat itu. Di satu sisi aku ingin segera pergi, namun disisi lain aku masih terkendala dari segi keuangan untuk bisa survive disini dan juga amanah kerja yang membuatku akhirnya mengambil keputusan untuk menunda keberangkatan di semester selanjutnya. singkat cerita, bulan Juli 2012 akhirnya aku berangkat untuk menuntut ilmu.

Keputusanku untuk melanjutkan study di malaysia sepertinya membuat orang-orang disekelilingku berfikir, hebatnya aku mengambil keputusan untuk belajar di negeri orang dengan biaya sendiri tanpa ada sponsor sepeserpun dari manapun bahkan dari keluarga sendiri. Andai saja mereka tau pada saat itu sungguh aku sangat merasa khawatir akan keputusanku. Tidak mudah untuk mengambil keputusan ini hingga mengakibatkan rencana yang seharusnya ku jalani  tahun 2010 harus molor hingga baru terealisasi tahun  2012. Sampai-sampai aku berfikir aku harus siap kembali jika memang aku tak mampu menyelesaikan studi ku karena masalah dana. Bukan karena malas aku mencari beasiswa, hampir 3 tahun berburu beasiswa ke malaysia tapi lebih banyak beasiswa ke negeri eropa untuk bidang studi yang ku minati, sedang aku tak mau kesana karena aku tau kapasitasku sehingga aku lebih memilih negara terdekat. Saat itu sebenarnya brunei membuka beasiswa, tapi entah kenapa akupun tak tertarik kesana. sekalinya ada yang provide beasiswa ke Malaysia, requirement yang mereka minta tidak bisa ku penuhi.

Setelah banyak diskusi dari student-student Indonesia disini, ternyata memang sulit mendapatkan beasiswa ke malaysia. hingga ada yang mengatakan, “oya rezeki itu bukan hanya dari beasiswa, rezeki itu bisa datang dari mana saja”. Alhamdulillah, Allah mengelilingiku dengan orang-orang yang slalu mensupport ku dan meyakinkanku akan pertolongan-Nya. Dengan menguras semua tabungan akhirnya ku katakan pada Allah, “yaa Allah mungkinkah ini bisa dikatakan sebagai waqaf? mewaqafkan diri ku dan waktuku untuk menuntut ilmu dan meninggalkan kesenangan materi juga waktu yang bisa ku peroleh jika aku tetap bekerja? ya Allah.. sungguh ini ku lakukan hanya karena-Mu maka tolonglah aku”.

Dan Allah pun membuktikan pertolongan-Nya karena hingga detik ini Aku masih mampu bertahan :). Bagiku tak boleh lagi aku menyusahkan kakak-kakak ku, dan aku harus mampu berpijak sendiri dengan kekuatan yang Allah berikan. Dan dari sini ku dapati hikmah bahwa aku harus yakin terhadap Allah atas segala yang ku pinta. Jadi teringat dengan cerita seorang wanita yang mendatangi ustadz Yusuf Mansur dan bertanya, “ustadz saya sudah sholat malam dan dhuha setiap hari, tapi kenapa doa saya belum terkabul juga” sang ustadz dengan singkat menjawab “mungkin karena kamu masih belum yakin sama Allah”. sempat berfikir… maksudnya belum yakin sama Allah tuh gimana.. bukankan kita muslim yang sudah pasti percaya sama Allah ya…. dan Akhirnya ku dapati jawaban bahwa terkadang kita memang masih belum yakin dengan permintaan kita, belum yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita, masih ada rasa kekhawatiran-kekhawatiran yang menyelimuti doa-doa kita dan membuat kita tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa. hingga akhirnya kita berputus asa dalam berdoa. Padahal Allah mengatakan “jangan lah kamu berputus asa dalam berdoa”

to be continue… 🙂

 

 

 

She is From Myamar

imageFirst time datang ke UIA yang pertama kali dikhawatirkan adalah.. who’s my roomate? ada sedikit kekhawatiran kalau roomate nya foreigner (padahal diri sendiri adalah foreigner, karena tinggal di negara orang. hahaha..). you know lah… my english is soo bad at that time. yang ada nanti cuma geleng-geleng sama ngangguk-ngangguk aja.. huhuhu.. ketakutan untuk berhadapan dengan pelajaran bahasa inggris itu sudah muncul sejak SD sampai-sampai akhirnya benci dengan pelajaran itu. Karena waktu di SD, guru english nya galak banget. jadilah pelajarannya ikut terlihat menyeramkan.Tapi itulah masa lalu yang harus segera dirubah paradigmanya. Dan masuk uia adalah bagian dari misi merubah paradigma itu

Baca lebih lanjut

Wake Up… PLEASE!!

GambarSempat tak terbayang 3 bulan liburan tak ada aktivitas belajar.. mau ngapaiiiinn… hummffhh… mungkin seperti ini pertanyaan untuk orang yang belum bisa memproduktifkan diri, dan mengoptimalkan waktu..

3 pekan pertama masih oke.. karena harus jadi guide untuk keponakan-keponakn yang akhirnya setelah hampir 20 thn bisa bersilaturrahim ke negara asli orang tuanya.. 1 pekan setelah itu, lebih banyak berdiam diri di kamar.. utak-atik tab, buka-buka web yang gak jelas..sampai-sampai kepala ini pusing karena aktivitas yang gak puguh… serasa buntu otak ini tak digunakan untuk belajar.. lemas badan ini tak digunakan untuk aktifitas yg banyak bergerak.. (oh Allah.. there is my fault, yang terlalu memanjakan dan memaklumi diri dengan keluangan waktu). Baca lebih lanjut

recovery for everything

Berusaha mulai memproduktifkan diri kembali sambil menimati perjalanan bandung-jakarta with parahyangan.

3 hari di bandung cukup bagiku untuk kembali menata diri sebelum ramadhan tiba. Obrolan2 ringan tentang kehidupan bersama sahabat terbaikku membuatku kembali membuka mata. Sudah seharusnya aku mulai bangkit melakukan rutinitas Terbaik yang pernah ku lakukan selama menjadi mahasiswa dulu.

1 hal yang sering terlupakan oleh ku adalah bahwa waktu terus berputar hingga akhirnya aku menyadari ternyata 4 th telah berlalu setelah merasakan indahnya perjuangan di kampus. 4 tahun…. setara dengan lamanya perjuanganku menimba ilmu dan menyelesaian amanahku di kampus. Lantas apa yang telah ku perbuat selama 4 thn ini ? Untuk diriku? keluargaku? Atau bahkan masyarakat? Kembali ku hanya bisa tertunduk Karena 4 thn ini tak ada report amalan progresif signifikan yang bisa ku banggakan dibandingkan dengan amalan progresif yang pernah ku rasakan slama menyandang status mahasiswa.

Dan aku pun mulai teringat dengan live mapping yang pernah kubuat 6 tahun yang lalu. Ternyata hanya sedikit sekali target yang bisa ku capai. Huhuhu…

Baca lebih lanjut

Perjalanan Dadakan (Part 2)

Jum’at 02-12-11

Saya tiba di Soeta tepat jam 08.30 langsung cek in sambil terus sms-an dengan salah satu pelatih yang akan pergi bersama. dalam benak ku aku akan bertemu oleh 2 orang pelatih yang masih muda. setidaknya usianya ga jauh beda laah..

Dan ternyata ketika bertemu, 2 orang pelatih itu sudah senior (bapak2). nyali ini sedikit menciut karena menurutku mereka yang dipilih adalah orang yang sudah lebih mapan dalam ilmu. 1. pelatih astronomi dari ITB, pekerjaannya mengajar di SMA 2 bandung dan sudah pernah mentraining guru2 untuk persiapan olimpiade, (2) pelatih komputer: ternyata beliau adalah seorang dosen di BINUS. huaaaa… sempat terfikir, apakah Surya institute salah sasaran menawarkan saya menjadi pelatih??

Untuk membuat hati tenang, akhirnya bapak pelatih astronomi pun saya ajak berbicara tentang  pengalaman beliau melatih pengajar untuk OSN. beliau bilang yang diajarkan kepada mereka biasanya materi-materi kuliah tapi tetap yang menyangkut OSN, dan beliau juga bilang kalau pesertanya di depok ada yang lebih sepuh dari nya.. (haduuhh.. kalau memang banyak yang sepuh, saya jadi seperti anak bawang dong).

Selama di perjalanan ada sedikit rasa khawatir membuat SI kecewa, tapi entah mengapa seolah hati tetap merasa tenang dan merasa yakin kalau diri ini bisa. yaa.. itulah kuasa Allah..  tapi sungguh tak ada penyesalan atas keputusan ini. dan akhirnya selama di perjalanan saya terus berharap agar Allah selalu membuat hati ini tenang.

Perjalanan menuju balik papan (sepinggan airport) sekitar 2 jam. di pesawat kami bertiga terpisah alias beda tempat duduk. karena cek in nya tidak bersama2. selama di pesawat, saya manfaatkan waktu dengan mencoba menjawab soal2 OSN yang sudah sempat ku download. sampai-sampai orang yang duduk di sebelahpun tak ku ajak bercakap-cakap. karena memang belum ada persiapan yang berhubungan dengan soal OSN.

Dan benarlah ternyata, ketika pesawat hampir mendarat ku selesaikan uji coba soal2 OSN, pemuda yang duduk disamping kiri ku langsung bergumam, “sudah mba.. jangan dipaksain kalau ga bisa..” (glek…) ternyata dari awal dia memperhatikan saya yang terlalu serius dengan kumpulan soal. sampai2 dia ga berani untuk menyapa. hehehe.. maaf ya pa..

Sekitar jam 13 WITA kami tiba di bandara balikpapan. perbedaannya 1 jam lebih cepat dari jakarta. dan kami sudah langsung di jemput menuju hotel di Bontang. Ketika masuk mobil, taukah.. musik apa yang disuguhi? ternyata yang disetel sang supir adalah lagu SAUHAR.. wow.. amazing.. dan akupun hanya tersenyum mendengarnya.. karena seolah lagu ini membuat hati ku semakin tenang

Ku pikir antara bontang dan balik papan itu sama seperti jakarta-bandung. ternyata. perjalanan ke bontang memakan waktu hampir 6 jam (hadeeeuuh) tadinya sudah berharap sore bisa langsung persiapkan materi untuk besok. akhirnya selama diperjalanan ku manfaatkan untuk membuat slide..

fiuuuhh.. perjalanan yang melelahkan dan cukup menyenangkan.. sambil disertai rasa khawatir karena saya tidak membawa buku2 ekonomi untuk amunisi, harapan satu2nya adalah bisa buka internet untuk cari data. namun harapan itupun sirna. karena di balikpapan saja modem ku tak mau beraksi apalagi di Bontang.. -____-  (to be continue..)

 

Perjalanan Dadakan (Part 1)

Kalimantan… hoho.. seolah mimpi ditawari menjadi pelatih pengajar di Bontang untuk olimpiade sains nasional (OSN) oleh Surya Institute (yayasannya Yohanes Surya).

Cerita berawal di hari selasa malam (29/11). ada seseorang yang menelpon mengaku dari Surya institute, meminta kesediaan saya menjadi trainer ekonomi di Bontang. tapi harus berangkat lusa yaitu kamis (01/12). itu juga sebenarnya kedatangan saya sudah telat. Pada saat itu sulit sekali untuk menentukan antara ingin dan tidak.

alasan ingin mengambil kesempatan ini karena tawaran datang dari yayasan yohanes surya (jujur, saya termasuk pengaggum beliau melalui dedikasinya untuk ajang olimpiade fisika). dan saya merasa ini jawaban Allah atas doa yang baru saja mulai ku lafalkan tentang “jangan menyerah dan pesimis” karena Allah tak akan mengubah suatu kaum hingga ia mengubahnya terlebih dahulu.. .

Sedangkan alasan tidak inginnya, karena terlalu mendadak, dan tak ada persiapan sama sekali kecuali bekal pengalaman mengajar di NF. apalagi yang dilatih bukan siswa, tapi GURU. plus saya harus izin sementara dari aktifitas NF. padahal saat itu lagi banyak2nya kerjaan membuat soal-s0al untuk semester 2 yang belum kelar dan harus rampung dalam pekan ini. plus panitia menyampaikan kalau semua pelatih yang ada hanya laki2. kalau saya jadi, perempuannya cuma saya seorang. (jiaaah..) dan akhirnya dengan bismillah,ku ucapkan insya allah saya bisa!!

Sampai dirumah, laptop dibuka dan ku tuntaskan semua kerjaan yang belum selesai termasuk permintaan pembuatan modul untuk pelatihan. ohh Allah, baru kali ini mengalami kondisi terdesak dengan waktu yang amat parah.

Rabu nya, berharap bisa prepare untuk keberangkatan hari kamis ternyata harus rapat dipusat hingga sore. jadilah tak ada waktu untuk prepare, tapi ternyata Allah makin berbaik hati, penerbangan ke kalimantanku diundur jadi hari jumat. karena kalau kamis saya harus pergi sendiri, sedangkan jumat ada 2 pelatih lain yang ikut menyusul (pelatih astronomi dan komputer). alhamdulillah.. bismillah lagi, untuk menyelesaikan segalanya di hari kamis walaupun harus sambil ngajar 6 sesi.. tak apa lah..

Jum’at,

Prepare barang sudah sejak malam, jam penerbangannya 9.30 tapi saya sudah harus berangkat jam7. subuhnya ternyata soal2 deadline NF belum juga kelar.. tepat jam 6 kuselesaikan dan ku kirim ke bagian pendidikan. dan berangkat lah menuju Soeta.dengan sukacita sambil berucap..

“Bismillahi ttawaakaltu ‘alallah laa haula wa laa quwwata illa billah…(tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dari Allah Ta’ala